(Art and Culture School)

Jumat, 24 Februari 2012

Pendidikan Seks di kalangan Remaja

Masalah sosial yang berkembang di masyarakat sangat bervariatif. Dari skala local sampai skala internasional bermacam-macam masalahnya dan ada yang dapat ditangani ada pula yang tidak. Tidak dapat disangkal bahwa masalah sosial lebih sukar dipecahkan daripada masalah alam. Hal ini disebabkan oleh keberadaan masalah sosial yang kompleks dan tingkat subyektivitas sangat tinggi. Sehingga akan sulit untuk ditemukan jalan keluar.

Kesukaran ini pun terlihat dalam salah satu masalah sosial yang kontemporer, yaitu seks bebas di kalangan remaja. Jika ditinjau dari aspek perkembangan psikis, munculnya problema ini sangat mungkin terjadi karena melihat masa remaja adalah masa yang serba ingin tahu, ingin mengalami peristiwa yang belum pernah dialaminya, dan cenderung mengikuti nafsu atau pemuas hasrat.

Timbulnya dorongan ini akan mengakibatkan aksi berupa perbuatan-perbuatan yang melanggar asusila jika hasrat yang ingin dipenuhinya itu adalah berupa dorongan seksual. Hal ini juga disebabkan oleh kematangan fungsi organis seksual manusia yang terjadi pada usia remaja. Hormone-hormon mulai bekerja secara maksimal, organ-organ seks berkembang dengan matang, ovarium mulai aktif memproduksi sel telur, dan testis aktif memproduksi sperma.

Hadirnya sajian acara di media-media yang cenderung mengarah kea rah seksualitas menjadikan anak semakin terdorong untuk melampiaskan hasrat seksualnya. Hal ini tentu menjadi bahan kepenasarannan anak dan ingin untuk mencobanya.

Akan tetapi demikian, tindakan berupa pemuasan hasrat seks ini tergolong ke dalam masalah sosial karena anggapan masyarakat mengenai seks seharusnya hanya boleh dilakukan oleh mereka yang sudah mempunyai ikatan resmi, baik itu dipandang dari pihak agama maupun pemerintah. Perbuatan seks yang dilakukan di luar itu merupakan suatu pelanggaran terhadap nilai dan norma sosial yang notabene berpandangan bahwa seks di luar nikah adalah haram.

Namun permasalahannya adalah pada orang tua, yang secara pengalaman dan pengetahuan lebih memahami apa yang disebut dengan seks dan bagaimana cara untu aplikasinya. Pengetahuan ini tidak terdapat pada anak-anak remaja pada umumnya. Yang mereka tahu adalah seks itu hanya orang tua yang boleh melakukan, yang berhak tahu, sedangkan anak-anak tidak diperkenankan untuk mengetahuinya.

Pemahaman semacam ini justru akan lebih mendorong anak untuk lebih mengetahui apa dan bagaimana tentang seks itu sendiri. Semakin ia tahu dan mendapatkan kepuasan, maka ia akan mengalami sindrom ketagihan. Masalah ini yang justru sangat membahayakan.

Namun demikian, akan berkeadaan sebaliknya apabila anak itu mengerti tentang seks. Bagaimana definisi tentang seks, aplikasi dari seks, dan dampak dari seks itu sendiri (terutama untuk aksi seks bebas). Dengan mengetahui hal-hal tersebut akan lebih efektif untuk menekan anak supaya tidak melakukan tindakan seks daripada anak tersebut hanya didoktrin tentang seks itu haram, seks itu tidak baik, seks itu terlaranga bagi anak di bawah umur.

Perilaku Seksual

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan senggama. Obyek seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri. Sebagian tingkah laku ini memang tidak memiliki dampak, terutama bila tidak menimbulkan dampak fisik bagi orang yang bersangkutan atau lingkungan sosial. Tetapi sebagian perilaku seksual (yang dilakukan sebelum waktunya) justru dapat memiliki dampak psikologis yang sangat serius, seperti rasa bersalah, depresi, marah, dan agresi.

Sementara akibat psikososial yang timbul akibat perilaku seksual antara lain adalah ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah, misalnya pada kasus remaja yang hamil di luar nikah. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut. Selain itu resiko yang lain adalah terganggunya kesehatan yang bersangkutan, resiko kelainan janin dan tingkat kematian bayi yang tinggi. Disamping itu tingkat putus sekolah remaja hamil juga sangat tinggi, hal ini disebabkan rasa malu remaja dan penolakan sekolah menerima kenyataan adanya murid yang hamil diluar nikah. Masalah ekonomi juga akan membuat permasalahan ini menjadi semakin rumit dan kompleks.

Berbagai perilaku seksual pada remaja yang belum saatnya untuk melakukan hubungan seksual secara wajar antara lain dikenal sebagai :

1. Masturbasi atau onani yaitu suatu kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan hasrat seksual untuk pemenuhan kenikmatan yang seringkali menimbulkan goncangan pribadi dan emosi.

2. Berpacaran dengan berbagai perilaku seksual yang ringan seperti sentuhan, pegangan tangan sampai pada ciuman dan sentuhan-sentuhan seks yang pada dasarnya adalah keinginan untuk menikmati dan memuaskan dorongan seksual.

3. Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuasan dorongan seksual yang pada dasarnya menunjukan tidak berhasilnya seseorang dalam mengendalikannya atau kegagalan untuk mengalihkan dorongan tersebut ke kegiatan lain yang sebenarnya masih dapat dikerjakan.

Dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja, oleh karena itu bila tidak ada penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus dilakukan usaha untuk memberi pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut.

Adapun faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja, menurut Sarlito W. Sarwono adalah sebagai berikut :

1. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu

2. Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan, maupun karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan lain-lain)

3. Norma-norma agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut.

4. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media masa yang dengan teknologi yang canggih (contohnya: VCD, buku stensilan, foto, majalah, internet, dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya.

5. Orangtua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak terbuka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini.

6. Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat, sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria.

Pendidikan Seksual

Menurut Sarlito menuturkan bahwa secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar, yang meliputi proses terjadinya pembuahan, kehamilan sampai kelahiran, tingkah laku seksual, hubungan seksual, dan aspek-aspek kesehatan, kejiwaan dan kemasyarakatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, apa yang dilarang, apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat.

Pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar. Penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak. Dalam hal ini pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seksual. Selain itu tingkat sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Dalam hal ini maka sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar.

Tujuan Pendidikan Seksual

Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.

Pendidikan seksual yang baik mempunyai tujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggungjawab. Beberapa ahli mengatakan pendidikan seksual yang baik harus dilengkapi dengan pendidikan etika, pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat. Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan seksual adalah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja, tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial dan kesusilaan.

Penjabaran tujuan pendidikan seksual dengan lebih lengkap sebagai berikut :

7. Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja.

8. Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggungjawab)

9. Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi

10. Memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga.

11. Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.

12. Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya.

13. Untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan.

14. Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai istri atau suami, orang tua, anggota masyarakat.

Jadi tujuan pendidikan seksual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor. Tetapi lebih sebagai bawaan manusia, yang merupakan anugrah Tuhan dan berfungsi penting untuk kelanggengan kehidupan manusia, dan supaya anak-anak itu bisa belajar menghargai kemampuan seksualnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut untuk tujuan tertentu (yang baik) dan pada waktu yang tertentu saja.

Implementasi Pendidikan Remaja

Para ahli berpendapat bahwa pendidik yang terbaik adalah orang tua dari anak itu sendiri. Pendidikan yang diberikan termasuk dalam pendidikan seksual. Dalam membicarakan masalah seksual adalah yang sifatnya sangat pribadi dan membutuhkan suasana yang akrab, terbuka dari hati ke hati antara orang tua dan anak. Hal ini akan lebih mudah diciptakan antara ibu dengan anak perempuannya atau bapak dengan anak laki-lakinya, sekalipun tidak ditutup kemungkinan dapat terwujud bila dilakukan antara ibu dengan anak laki-lakinya atau bapak dengan anak perempuannya. Kemudian usahakan jangan sampai muncul keluhan seperti tidak tahu harus mulai dari mana, kekakuan, kebingungan dan kehabisan bahan pembicaraan.

Dalam memberikan pendidikan seks pada anak jangan ditunggu sampai anak bertanya mengenai seks. Sebaiknya pendidikan seks diberikan dengan terencana, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan anak. Sebaiknya pada saat anak menjelang remaja dimana proses kematangan baik fisik, maupun mentalnya mulai timbul dan berkembang kearah kedewasaan.

Beberapa hal penting dalam memberikan pendidikan seksual, seperti yang diuraikan berikut ini:

  1. Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-ragu atau malu.
  2. Isi uraian yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerangkan yang tidak-tidak, seolah-olah bertujuan agar anak tidak akan bertanya lagi, boleh mempergunakan contoh atau simbol seperti misalnya : proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan, sejauh diperhatikan bahwa uraiannya tetap rasional.
  3. Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak. Terhadap anak umur 9 atau 10 tahun belum perlu menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubungan kelamin, karena perkembangan dari seluruh aspek kepribadiannya memang belum mencapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam mengenai masalah tersebut.
  4. Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas sempitnya pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak sama buat setiap anak. Dengan pendekatan pribadi maka cara dan isi uraian dapat disesuaikan dengan keadaan khusus anak.
  5. Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usahakan melaksanakan pendidikan seksual perlu diulang-ulang (repetitif) selain itu juga perlu untuk mengetahui seberapa jauh sesuatu pengertian baru dapat diserap oleh anak, juga perlu untuk mengingatkan dan memperkuat (reinforcement) apa yang telah diketahui agar benar-benar menjadi bagian dari pengetahuannya.

Selain itu juga dapat berupa mendasarkan pada usia seperti berikut :

  1. Usia 0 – 5 tahun

· Bantu anak agar merasa nyaman dengan tubuhnya

· Beri sentuhan dan pelukan kepada anak agar mereka merasakan kasih sàyang dari orangtuanya secara tulus.

· Bantu anak memahami perbedaan perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan di depan umum. Contohnya, saat anak selesai mandi harus mengenakan baju di dalam kamar mandi atau di kamarnya. Orangtua harus menanamkan bahwa tidak diperkenankan berlarian usai mandi tanpa busana. Anak harus tahu bahwa ada hal-hal pribadi dari tubuhnya yang tidak sèmua orang boleh lihat apalagi menyentuhnya.

· Ajari anak untuk mengetahui perbedaan anatomi tubuh pria dan wanita. Jelaskan proses tubuh seperti hamil dan melahirkan dalam kalimat sederhana. Dari sini bisa dijelaskan bagaimana bayi bisa berada dalam kandungan ibu. Tentu saja harus dilihat perkembangan kognitif anak. Yang penting orangtua tidak membohongi anak misalnya dengan mengatakan kalau adik datang dari langit atau dibawa burung. Cobalah memosisikan diri Anda sebagai anak pada usia tersebut. Cukup beritahu hal-hal yang ingin diketahuinya. Jelaskan dengan contoh yang terjadi pada binatang.

· Hindari perasaan malu dan bersalah atas bentuk serta fungsi tubuhnya.

· Ajarkan anak untuk mengetahui nama yang benar setiap bagian tubuh dan fungsinya. Katakan vagina untuk alat kelamin wanita dan penis untuk alat kelamin pria ketimbang mengatakan burung atau yang lainnya.

· Bantu anak memahami konsep pribadi dan ajarkan mereka kalau pembicaraan soal seks adalah pribadi.

· Beri dukungan dan suasana kondusif agar anak mau datang kepada orangtua untuk bertanya soal seks

  1. Usia 6 – 9 tahun

· Tetap menginformasikan masalah seks kepada anak, meski tidak ditanya.

· Jelaskan bahwa setiap keluarga mempunyai nilai-nilai sendiri yang patut dihargai. Seperti nilai untuk menjaga diri sebagai perempuan atau laki-laki serta menghargai lawan jenisnya.

· Berikan informasi mendasar tentang permasalahan seksual.

· Beritahukan kepada anak perubahan yang akan terjadi saat mereka menginjak masa pubertas.

  1. Usia 10 – 12 tahun

· Bantu anak memahami masa pubertas.

· Berikan penjelasan soal menstruasi bagi anak perempuan serta mimpi basah bagi anak laki-laki sebelum mereka mengalaminya. Dengan begitu anak sudah diberi persiapan tentang perubahan yang bakal terjadi pada dirinya.

· Hargai privasi anak.

· Dukung anak untuk melakukan komunikasi terbuka.

· Tekankan kepada anak bahwa proses kematangan seksual setiap individu itu berbeda-beda. Bantu anak untuk memahami bahwa meskipun secara fisik ia sudah dewasa, aspek kognitif dan emosionalnya belum dewasa untuk berhubungan intim.

· Beri pemahaman kepada anak bahwa banyak cara untuk mengekspresikan cinta dan kasih sayang tanpa perlu berhubungan intim.

· Diskusi terbuka dengan anak tentang alat kontrasepsi. Katakan bahwa alat kontrasepsi berguna bagi pasangan suami istri untuk mengatur atau menjarangkan kelahiran.

· Diskusikan tentang perasaan emosional dan seksual.

  1. Usia 13 – 15 tahun

· Ajarkan tentang nilai keluarga dan agama.

· Ungkapkan kepada anak kalau ada beragam cara untuk mengekspresikan cinta.

· Diskusikan dengan anak tentang faktor-faktor yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan hubungan seks.

  1. Usia 16 – 18 tahun

· Dukung anak untuk mengambil keputusan sambill memberi informasi berdasarkan apa seharusnya ia mengambil keputusan itu.

· Diskusikan dengan anak tentang perilaku seks yang tidak sehat dan ilegal.




sebagai calon orang tua, bagi generasi muda, menjaga anak agar tetap memegang nilai-nilai dan norma merupakan tugas utama. untuk itu, semoga tulisan ini dapat memnberikan gambaran bagi rekan-rekan semua untuk dapat merencanakan masa depan yang cerah.

sukses...

by : Fazar Shiddieq K.F.

Jumat, 20 Mei 2011

Maher Zain - Insha Allah



Everytime you feel like you cannot go on
You feel so lost
That your so alone
All you is see is night
And darkness all around
You feel so helpless
You can’t see which way to go
Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side

Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way

Everytime you commit one more mistake
You feel you can’t repent
And that its way too late
Your’re so confused, wrong decisions you have made
Haunt your mind and your heart is full of shame

Don’t despair and never loose hope
Cause Allah is always by your side
Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way
Insha Allah x3
Insya Allah you’ll find your way

Turn to Allah
He’s never far away
Put your trust in Him
Raise your hands and pray

OOO Ya Allah
Guide my steps don’t let me go astray
You’re the only one that showed me the way,
Showed me the way x2
Insyaallah x3
Insya Allah we’ll find the way
Video & Lyrics Information

Artist: Maher Zain
Album: Thank You Allah
Lyrics: Maher Zain & Bara Kherigi
Melody: Maher Zain
Arrangement: Maher Zain & Hamza Namira
Copyright: Awakening Records 2009

Senin, 18 April 2011

Seneby Music House




iTunes
iTunes Icon
ITunes Screenshot.png
iTunes 10 running on Mac OS X
Developer(s) Apple Inc.
Initial release January 9, 2001; 10 years ago (2001-01-09)
Stable release 10.2.2 (April 18, 2011; 32 days ago (2011-04-18)) [+/−]
Operating system Mac OS X v10.5 or later
Windows XP SP2 or later
Windows Vista with SP2 or later
Windows 7
Type Media player
License Proprietary
Website Apple.com/iTunes

iTunes is a proprietary digital media player application, used for playing and organizing digital music and video files. The application is also an interface to manage the contents on Apple's iPod, iPhone and iPad.

iTunes can connect to the iTunes Store to purchase and download music, music videos, television shows, iPod Games, Audiobooks, Podcasts, movies and movie rentals (not available in all countries), and Ringtones (only available on iPhone and iPod Touch 4th Generation). It is also used to download Apps from the App Store for the iPhone, iPod Touch and iPad.

iTunes was introduced by Apple Inc. on January 9, 2001.[1] The latest version, which is currently version 10.2.2, is available as a free download for Mac OS X v10.5/Windows XP or later on Apple's website. In June 2010, Apple released a new privacy policy pertaining to the capture and collection of users' real-time location information.[2] The information had been included in various device-specific EULAs since 2008, but was only recently included in Apple's general privacy policy.[3]

Rabu, 01 Desember 2010

Group Nasyid Madani




Group Nasyid Pertama di Kota Banjar

Sejarah Singkat



Madany? Apa? Siapa?
Mmmmmmm.... bagi yang belum kenal, boleh dech...
Madany adalah akronim atau singkatan dari geMA DAkwah dan NasYid. Kami adalah salah satu (atau satu-satunya? :-) red) grup nasyid yang ada di kota Banjar.

Kami mulai eksis atau bahasa kerennya profesional kurang lebih 5 tahun yang lalu. Evolusi dari grup nasyid La Tansa dari SMAN 1 Banjar.



Madany mencoba menyuguhkan seni islami yang lebih plur dan dinamis. Kami tidak terpaku pada seni islami (khususnya seni suara) yang itu-itu saja (misalnya rebana red.), tetapi mencoba bagaimana orang-orang tertarik pada islam melalui seni kami.

Mulai dari acapella, yang menurut orang-orang masih asing atau aneh, karena kok bisa mulut mengeluarkan suara-suara yang digabungkan menjadi seperti musik, kemudian alat musik acoustic (gitar dan bass accoustic plus perkusi) menjadikan nasyid yang kami suguhkan bisa bermacam jenis musik. Ada ballad, bossa, smooth jazz, etnis, melayu, dsb.
Mudah-mudahan bagaimanapun cara kami menyampaikan akan selalu berada di jalan dakwah untuk mengajak kami khususnya selalu mengingat-Nya.
Salam Ta'aruf dari kami Madany.!! (Kang Erik)
Wassalam...

Minggu, 14 November 2010

Imfulsif


Evolusi Seneband

akhirnya melahirkan

Imfulsif



"mudah-mudahan kita bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua...like ohm was said " There is no need a master plan, it's just a simple plan, but it's perfect.." nice quote, perfect to make them proud - amin
~Dhd&Riki~



Impulsivity


Orbitofrontal cortex, part of the prefrontal cortex

Impulsivity (or impulsiveness) is a personality trait characterized by the inclination of an individual to initiate behavior without adequate forethought as to the consequences of their actions, acting on the spur of the moment. Eysenck and Eysenck related impulsivity to risk-taking, lack of planning, and making up one's mind quickly. Impulsivity has been shown to be a major component of various neuropsychiatric disorders such as ADHD, substance abuse disorders and bipolar disorder. Impulsivity has been shown to have a genetic component and may be inheritable. Abnormal patterns of impulsivity may also be an acquired trait as a result of various neurodegenerative diseases, traumatic brain injury (TBI), hypoxic ischemic encephalopathy, intrauterine hypoxia, bacterial or viral infections or neurotoxicity as a result of chemical exposure. The orbitofrontal cortex and right inferior frontal gyrus have been shown to play a part in impulse control.[1][2][3]

As a personality trait, impulsivity is part of normal behavior as it contributes to adaptive functioning. To do something and not be aware, especially for young children, is relatively common. Recent psychological research has suggested that there are various facets of impulsivity.[4] Some researchers have proposed a 3-factor model according to impulsivity; attentional ("getting easily bored"), motor ("going into action") and cognitive ("inability to plan") factors. Recent theories[5] have suggested five separate aspects of impulsivity:[6]

  • Positive urgency; the tendency to act rashly while in a positive mood.
  • Negative urgency; the tendency to act rashly while in a negative mood.
  • Lack of premeditation; the inability to anticipate the future consequences of actions.
  • Lack of perseverance; the inability to follow through on a task
  • Sensation-seeking; the experience of positive feelings towards risky actions.

Psychometric tests for impulsivity

  • Lifetime History of Impulsive Behaviors; a self-report questionnaire of the lifetime prevalence of impulsive behavior.[7]
  • UPPS Impulsive Behavior Scale (Whiteside and Lynam; 2001); a 45-item self-report questionnaire which distinguishes four facets of impulsivity: urgency, lack of premeditation, lack of perseverance, and sensation-seeking. It is scored on a 4-point scale from Strongly Agree to Strongly Disagree.[8]
    • UPPS-P Impulsive Behavior Scale (UPPS-P); a revised version of the UPPS is a 59-item self-report questionnaire that adds an additional factor, "positive urgency".[9]
    • UPPS-R Interview (UPPS-R); Semi-structured interview format for UPPS-P Impulsive Behavior Scale.
  • Barratt Impulsiveness Scale; a 30-item self-report questionnaire.[10]

References

  1. ^ Corsini, Raymond Joseph, 1999, The Dictionary of Psychology, Psychology Press, ISBN 158391028X, p. 476.
  2. ^ Berlin HA, Rolls ET, Kischka U. Impulsivity, time perception, emotion and reinforcement sensitivity in patients with orbitofrontal cortex lesions. Brain. 2004 May;127(Pt 5):1108-26. Epub 2004 Feb 25. PMID 14985269
  3. ^ Salmond CH, Menon DK, Chatfield DA, Pickard JD, Sahakian BJ. Deficits in decision-making in head injury survivors.J Neurotrauma. 2005 Jun;22(6):613-22. PMID 15941371
  4. ^ Varieties of impulsivity, J.L. Evenden, Psychopharmacology, 1999, Volume 146, Number 4.
  5. ^ Whiteside SP, Lynam DR. The Five Factor Model and impulsivity: Using a structural model of personality to understand impulsivity. Pers Indiv Differ 2001; 30: 669-89.
  6. ^ Emotion-based Dispositions to Rash Action: Positive and Negative Urgency Melissa A. Cyders and Gregory T. Smith. Article
  7. ^ Schmidt CA, Fallon AE, Coccaro EF. Assessment of behavioral and cognitive impulsivity: development and validation of the Lifetime History of Impulsive Behaviors Interview. Psychiatry Res. 2004 Apr 30;126(2):107-21. PMID 15123390
  8. ^ Whiteside SP, Lynam DR. Understanding the role of impulsivity and externalizing psychopathology in alcohol abuse: application of the UPPS impulsive behavior scale.Exp Clin Psychopharmacol. 2003 Aug;11(3):210-7. PMID 12940500
  9. ^ Perales JC, Verdejo-Garcia A, Moya M, Lozano O, Perez-Garcia M. Bright and dark sides of impulsivity: Performance of women with high and low trait impulsivity on neuropsychological tasks. J Clin Exp Neuropsychol. 2009 Apr 8:1-18. [Epub ahead of print] PMID 19358009
  10. ^ Patton JH, Stanford MS, Barratt ES. Factor structure of the Barratt impulsiveness scale. J Clin Psychol. 1995 Nov;51(6):768-74. PMID 8778124


Impulse (physics)

Classical mechanics
History of classical mechanics · Timeline of classical mechanics
[hide]Fundamental concepts
Space · Time · Velocity · Speed · Mass · Acceleration · Gravity · Force · Impulse · Torque / Moment / Couple · Momentum · Angular momentum · Inertia · Moment of inertia · Reference frame · Energy · Kinetic energy · Potential energy · Mechanical work · Virtual work · D'Alembert's principle

In classical mechanics, an impulse is defined as the integral of a force with respect to time. When a force is applied to a rigid body it changes the momentum of that body. A small force applied for a long time can produce the same momentum change as a large force applied briefly, because it is the product of the force and the time for which it is applied that is important. The impulse is equal to the change of momentum.

Contents


Mathematical derivation

Impulse I produced from time t1 to t2 is defined to be[1]

\mathbf{I} = \int_{t_1}^{t_2} \mathbf{F}\, dt

where F is the force applied from t1 to t2.

From Newton's second law, force is related to momentum p by

\mathbf{F} = \frac{d\mathbf{p}}{dt}.

Therefore

\begin{align}  \mathbf{I} &= \int_{t_1}^{t_2} \frac{d\mathbf{p}}{dt}\, dt \\  &= \int_{t_1}^{t_2} d\mathbf{p} \\  &= \Delta \mathbf{p}, \end{align}

where Δp is the change in momentum from time t1 to t2. This is often called the impulse-momentum theorem.[2]

As a result, an impulse may also be regarded as the change in momentum of an object to which a force is applied. The impulse may be expressed in a simpler form when both the force and the mass are constant:

\mathbf{I} = \mathbf{F}\,\Delta t = m \,\Delta \mathbf{v} = \Delta\mathbf{p}

where

F is the constant total net force applied,
Δt is the time interval over which the force is applied,
m is the constant mass of the object,
Δv is the change in velocity produced by the force in the considered time interval, and
m Δv = Δ(mv) is the change in linear momentum.

It is often the case that not just one but both of these two quantities vary.

In the technical sense, impulse is a physical quantity, not an event or force. The term "impulse" is also used to refer to a fast-acting force. This type of impulse is often idealized so that the change in momentum produced by the force happens with no change in time. This sort of change is a step change, and is not physically possible. This is a useful model for computing the effects of ideal collisions (such as in game physics engines).

Impulse has the same units (in the International System of Units, kg·m/s = N·s) and dimensions (MLT−1) as momentum.

Impulse can be calculated using the equation

\mathbf{F}\,\Delta t = \Delta  p = mv_1 - mv_0 \,

where

F is the constant total net force applied,
t is the time interval over which the force is applied,
m is the constant mass of the object,
v1 is the final velocity of the object at the end of the time interval, and
v0 is the initial velocity of the object when the time interval begins.

See also

Notes

  1. ^ Hibbeler, Russell C. (2010), Engineering Mechanics, 12th edition, Pearson Prentice Hall, p. 222, ISBN 0-13-607791-9
  2. ^ See, for example, section 9.2, page 257, of Serway (2004).

Bibliography

  • Serway, Raymond A.; Jewett, John W. (2004). Physics for Scientists and Engineers (6th ed. ed.). Brooks/Cole. ISBN 0-534-40842-7.
  • Tipler, Paul (2004). Physics for Scientists and Engineers: Mechanics, Oscillations and Waves, Thermodynamics (5th ed. ed.). W. H. Freeman. ISBN 0-7167-0809-4.

External links